PENGARUH “STILL FACE” IBU PADA EMOSI DAN PERILAKU ANAK – yws
Apa yang kita lakukan pada saat bayi kita menatap wajah kita?
- Tersenyum
- Membuat wajah-wajah lucu
- Berceloteh mengajaknya bicara
- Menggerakkan kepala, tangan atau tubuh
- Tak berekspresi karena sedang memikirkan banyak hal
- Tak memperhatikan karena sedang sibuk bergadget atau mengerjakan pekerjaan rumah
- Kesal dan marah karena merasa kerepotan
- Dll
“Still Face” atau terjemahan harafiahnya adalah “ekspresi muka datar” mengacu pada ekspresi wajah tanpa emosi. Still Face Experiment adalah percobaan yang dilakukan untuk melihat bagaimana pengaruh ekspresi ibu/pengasuh kepada emosi dan perilaku bayi. Saya sungguh terpengaruh dengan percobaan ini dan semakin yakin bahwa seorang ibu/pengasuh perlu memberikan respon yang koheren (sesuai) dengan ekspresi anak.
Ibu yang peka, hangat dan memiliki kelekatan/attachment dengan anaknya, merupakan basis untuk pembentukan emosi yang sehat bagi anak. Sebaliknya ibu/pengasuh yang kurang peka, kurang ekspresif, kurang responsif atau bahkan tidak jarang, menampilkan ekspresi tidak nyaman seperti tidak tertarik, tidak peduli, memalingkan muka (karena sibuk dengan pekerjaan atau karena gadget), kesal, cemberut, marah, membuat anak frustrasi, rewel, tidak aman, tidak nyaman dan bila itu berlangsung terus-menerus, maka anak berpeluang mengalami gangguan emosi dan perilaku di kemudian hari.
Video di bawah ini cukup menunjukkan betapa pentingnya kita sebagai pengasuh memberikan respon positif pada anak. Respon positif ini adalah kebutuhan anak untuk mengembangkan kemampuan pengelolaan emosi yang sehat dan kendali perilaku yang baik.
Tonton videonya di sini https://www.youtube.com/watch?v=apzXGEbZht0
*Bayi = usia 0-12 bulan
*Simpen gadget saat bersama bayi
Yeti Widiati 22-220217
Rabu, 22 Februari 2017
Kamis, 16 Februari 2017
ENERGI MASKULIN DAN FEMININ UNTUK ANAK-ANAK KITA - yws
Idealnya, anak memperoleh energi maskulin dan energi feminin secara proporsional dalam hidup mereka. Energi maskulin biasanya berasal dari ayah kandungnya, dan energi feminin biasanya berasal dari ibu kandungnya. Catat .... BIASANYA ....!
Ternyata dalam hidup tidak semua anak berada dalam situasi ideal. Ada yang tidak memiliki ayah dan/atau ibu kandung. Ada pula yang berayah dan beribu kandung, namun ayah ibu ini "tidak hadir" dalam hidupnya atau fungsi ayah ibunya tidak maksimal.
Secara tradisional, umumnya ayah dengan energi maskulinnya menegakkan aturan/disiplin, membantu anak dalam pemecahan masalah secara rasional, mengajarkan agama, dan menetapkan pengaturan ekonomi secara umum. Sementara ibu dengan energi femininnya memberikan pendekatan afektif (kasih sayang), pemeliharaan (kesehatan, kebersihan, kerapian) dan juga hal-hal detail dan praktis lainnya.
Boleh jadi ada saja ayah atau ibu yang memiliki kedua energi tersebut sekaligus dalam satu sosok. Tapi mereka ini sangat langka. Biasanya kita temukan para ayah ibu luar biasa ini pada;
- Orangtua tunggal, entah karena ditinggal meninggal atau perpisahan karena perceraian.
- Orangtua yang lengkap namun tak bisa hadir menjalankan fungsinya, misalnya pada kasus LDR (Long Distance Relationship), orangtua yang salah satunya sangat sibuk bekerja sehingga minimal bertemu dengan anak.
- Orangtua yang lengkap, ada namun tak bisa menjalankan fungsinya secara optimal, entah karena sakit parah atau karena karakteristik pribadi tertentu, sehingga salah satu mengambil peran pasangannya.
Kembali lagi poin-nya adalah pada kebutuhan anak akan energi maskulin dan feminin. Diana Baranovich, seorang Psikolog dan Play Therapist dalam salah satu training yang saya ikuti, mengatakan bahwa anak membutuhkan kedua energi tersebut untuk keseimbangan dirinya dan juga untuk melakukan proses identifikasi. Untuk satu tujuan yang sama, misalnya meminta anak makan, ayah dan ibu biasanya akan melakukan pendekatan dengan cara yang berbeda sesuai kekhasannya masing-masing. Dan ini akan memperkaya skema (pola perilaku) anak.
Bila anak memiliki contoh yang kaya dalam hidupnya, maka ia memiliki pilihan lebih banyak untuk berperilaku dibandingkan bila ia hanya memiliki sedikit pilihan dalam bertindak. Intinya, anak lebih fleksibel dan memiliki daya lentur (resiliensi) yang lebih baik dalam menghadapi tekanan. Memiliki kepekaan (energi feminin) dan juga bisa berpikir rasional untuk memecahkan masalah (energi maskulin).
Dalam kondisi keluarga di mana energi maskulin dan feminin tidak diperoleh secara seimbang, maka peluang masalah seringkali muncul pada area di mana salah satu energi tidak memadai.
Pada keluarga yang kekurangan energi maskulin, maka masalah yang kerap dikeluhkan adalah, anak-anak yang tidak menurut, tidak disiplin, pencemas karena kesulitan memecahkan masalah. Para ibunya mengeluh bahwa mereka tidak didengar, tidak dihargai dan tidak dipatuhi. Sementara anak-anak yang kekurangan energi feminin, berpeluang menjadi kaku dan kurang ekspresif dalam menampilkan ekspresi emosinya.
Apakah berarti anak-anak yatim/piatu, anak-anak panti asuhan, anak-anak dari singlet parent, anak-anak yang orangtuanya LDR, anak-anak yang orangtuanya salah satu atau keduanya “tidak hadir” atau tidak menjalankan peran dan fungsinya dalam keluarga dan anak-anak angkat dari same sex couple, pasti memiliki masalah karena ketidak-seimbangan energi feminin dan maskulin? Ya tidak begitu berpikirnya. Menariknya adalah, ketika Allah memberikan tantangan dan kesulitan, selalu diiringi dengan resources untuk mengatasi tantangan dan kesulitan tersebut.
Ketika kita menyadari bahwa ada hal-hal yang kurang ideal dalam hidup kita, tetap kita perlu berpikir, bagaimana tetap menyeimbangkan agar sedapat mungkin kekurang-idealan itu tidak meninggalkan masalah dan bahkan justru menjadi kekuatan. Dalam konteks keseimbangan energi maskulin dan feminin ini, maka seringkali saya menyarankan agar orangtua mencari penyeimbang tersebut dari figur-figur yang ada di sekitar anak. Karena saya menyadari tidak mudah dan tidak setiap orang sanggup berperan ganda, sebagai ibu, sekaligus sebagai ayah, sementara kebutuhan anak tetap perlu menjadi fokus kita.
Bila kehadiran ayah dengan energi maskulinnya tak dirasakan anak, maka energi itu bisa diperoleh dari kakeknya, pamannya, ayah tiri, ayah angkat, guru laki-laki, pengasuh laki-laki (di panti asuhan) atau figur lainnya yang dapat mengemban sebanyak mungkin fungsi ayah.
Sebaliknya bila kehadiran ibu dengan energi femininnya, tak dirasakan anak, maka energi itu bisa diperoleh dari nenek, tante, ibu tiri, ibu angkat, guru perempuan, baby sitter, atau pengasuh perempuan di panti asuhan.
Bagaimanapun tetap membutuhkan strategi yang tepat agar penyelesaian masalah di satu sisi tidak menimbulkan masalah di sisi yang lain. Misalnya, ketika ayah atau ibu memutuskan untuk menghadirkan ayah/ibu baru sebagai pengganti, maka pertimbangannya menjadi tidak sederhana. Bagaimana pun berfokus pada kepentingan anak, menjadi hal yang crucial dan perlu dipertimbangkan.
Teladan kita, Rasulullah bisa menjadi contoh yang baik terkait ini. Ia lahir tak mengenal ayahnya, dan bertahun-tahun dibesarkan bukan oleh ibu kandungnya sendiri. Namun ia (menurut saya) memperoleh energi maskulin dan feminin itu secara seimbang dari orang-orang luar biasa sekitarnya, sehingga ia dapat berkembang menjadi seorang yang istimewa.
*"Berbeda" itu tak perlu disesali. Cari cara agar perbedaan itu menjadi "Kekuatan".
Yeti Widiati 21-160217
Idealnya, anak memperoleh energi maskulin dan energi feminin secara proporsional dalam hidup mereka. Energi maskulin biasanya berasal dari ayah kandungnya, dan energi feminin biasanya berasal dari ibu kandungnya. Catat .... BIASANYA ....!
Ternyata dalam hidup tidak semua anak berada dalam situasi ideal. Ada yang tidak memiliki ayah dan/atau ibu kandung. Ada pula yang berayah dan beribu kandung, namun ayah ibu ini "tidak hadir" dalam hidupnya atau fungsi ayah ibunya tidak maksimal.
Secara tradisional, umumnya ayah dengan energi maskulinnya menegakkan aturan/disiplin, membantu anak dalam pemecahan masalah secara rasional, mengajarkan agama, dan menetapkan pengaturan ekonomi secara umum. Sementara ibu dengan energi femininnya memberikan pendekatan afektif (kasih sayang), pemeliharaan (kesehatan, kebersihan, kerapian) dan juga hal-hal detail dan praktis lainnya.
Boleh jadi ada saja ayah atau ibu yang memiliki kedua energi tersebut sekaligus dalam satu sosok. Tapi mereka ini sangat langka. Biasanya kita temukan para ayah ibu luar biasa ini pada;
- Orangtua tunggal, entah karena ditinggal meninggal atau perpisahan karena perceraian.
- Orangtua yang lengkap namun tak bisa hadir menjalankan fungsinya, misalnya pada kasus LDR (Long Distance Relationship), orangtua yang salah satunya sangat sibuk bekerja sehingga minimal bertemu dengan anak.
- Orangtua yang lengkap, ada namun tak bisa menjalankan fungsinya secara optimal, entah karena sakit parah atau karena karakteristik pribadi tertentu, sehingga salah satu mengambil peran pasangannya.
Kembali lagi poin-nya adalah pada kebutuhan anak akan energi maskulin dan feminin. Diana Baranovich, seorang Psikolog dan Play Therapist dalam salah satu training yang saya ikuti, mengatakan bahwa anak membutuhkan kedua energi tersebut untuk keseimbangan dirinya dan juga untuk melakukan proses identifikasi. Untuk satu tujuan yang sama, misalnya meminta anak makan, ayah dan ibu biasanya akan melakukan pendekatan dengan cara yang berbeda sesuai kekhasannya masing-masing. Dan ini akan memperkaya skema (pola perilaku) anak.
Bila anak memiliki contoh yang kaya dalam hidupnya, maka ia memiliki pilihan lebih banyak untuk berperilaku dibandingkan bila ia hanya memiliki sedikit pilihan dalam bertindak. Intinya, anak lebih fleksibel dan memiliki daya lentur (resiliensi) yang lebih baik dalam menghadapi tekanan. Memiliki kepekaan (energi feminin) dan juga bisa berpikir rasional untuk memecahkan masalah (energi maskulin).
Dalam kondisi keluarga di mana energi maskulin dan feminin tidak diperoleh secara seimbang, maka peluang masalah seringkali muncul pada area di mana salah satu energi tidak memadai.
Pada keluarga yang kekurangan energi maskulin, maka masalah yang kerap dikeluhkan adalah, anak-anak yang tidak menurut, tidak disiplin, pencemas karena kesulitan memecahkan masalah. Para ibunya mengeluh bahwa mereka tidak didengar, tidak dihargai dan tidak dipatuhi. Sementara anak-anak yang kekurangan energi feminin, berpeluang menjadi kaku dan kurang ekspresif dalam menampilkan ekspresi emosinya.
Apakah berarti anak-anak yatim/piatu, anak-anak panti asuhan, anak-anak dari singlet parent, anak-anak yang orangtuanya LDR, anak-anak yang orangtuanya salah satu atau keduanya “tidak hadir” atau tidak menjalankan peran dan fungsinya dalam keluarga dan anak-anak angkat dari same sex couple, pasti memiliki masalah karena ketidak-seimbangan energi feminin dan maskulin? Ya tidak begitu berpikirnya. Menariknya adalah, ketika Allah memberikan tantangan dan kesulitan, selalu diiringi dengan resources untuk mengatasi tantangan dan kesulitan tersebut.
Ketika kita menyadari bahwa ada hal-hal yang kurang ideal dalam hidup kita, tetap kita perlu berpikir, bagaimana tetap menyeimbangkan agar sedapat mungkin kekurang-idealan itu tidak meninggalkan masalah dan bahkan justru menjadi kekuatan. Dalam konteks keseimbangan energi maskulin dan feminin ini, maka seringkali saya menyarankan agar orangtua mencari penyeimbang tersebut dari figur-figur yang ada di sekitar anak. Karena saya menyadari tidak mudah dan tidak setiap orang sanggup berperan ganda, sebagai ibu, sekaligus sebagai ayah, sementara kebutuhan anak tetap perlu menjadi fokus kita.
Bila kehadiran ayah dengan energi maskulinnya tak dirasakan anak, maka energi itu bisa diperoleh dari kakeknya, pamannya, ayah tiri, ayah angkat, guru laki-laki, pengasuh laki-laki (di panti asuhan) atau figur lainnya yang dapat mengemban sebanyak mungkin fungsi ayah.
Sebaliknya bila kehadiran ibu dengan energi femininnya, tak dirasakan anak, maka energi itu bisa diperoleh dari nenek, tante, ibu tiri, ibu angkat, guru perempuan, baby sitter, atau pengasuh perempuan di panti asuhan.
Bagaimanapun tetap membutuhkan strategi yang tepat agar penyelesaian masalah di satu sisi tidak menimbulkan masalah di sisi yang lain. Misalnya, ketika ayah atau ibu memutuskan untuk menghadirkan ayah/ibu baru sebagai pengganti, maka pertimbangannya menjadi tidak sederhana. Bagaimana pun berfokus pada kepentingan anak, menjadi hal yang crucial dan perlu dipertimbangkan.
Teladan kita, Rasulullah bisa menjadi contoh yang baik terkait ini. Ia lahir tak mengenal ayahnya, dan bertahun-tahun dibesarkan bukan oleh ibu kandungnya sendiri. Namun ia (menurut saya) memperoleh energi maskulin dan feminin itu secara seimbang dari orang-orang luar biasa sekitarnya, sehingga ia dapat berkembang menjadi seorang yang istimewa.
*"Berbeda" itu tak perlu disesali. Cari cara agar perbedaan itu menjadi "Kekuatan".
Yeti Widiati 21-160217
Senin, 13 Februari 2017
DOUBLE STANDARD DALAM PARENTING - yws
Orangtua berharap anak bisa mandiri, tapi mereka mengambil alih penyelesaian masalah anak.
Orangtua berharap anak mau mendengar dan patuh, tapi mereka lebih banyak bicara dan tak cukup sediakan waktu untuk mendengar celoteh anak.
Orangtua berharap anak kritis, tapi mereka jengkel ketika anak membantah dan mendebat.
Orangtua berharap anak bisa mengendalikan emosi, tapi mereka kesal ketika anak marah, menangis dan tantrum.
Orangtua berharap anak kreatif dan penuh ide, tapi mereka tak tahan anak nggratak dan rumah berantakan.
Orangtua berharap anak penuh rasa ingin tahu dan bersemangat belajar, tapi mereka pening saat anak bertanya terus ... terus ... dan terus ...
Orangtua berharap anak membaca buku dan tak bermain games atau gadget, tapi mereka menghabiskan waktu dengan bergadget ria.
Orangtua berharap anak berkata sopan dan bertindak santun, tapi mereka berucap kasar saat tak sependapat dengan orang lain.
Orangtua berharap anak tak dibully dan membully orang lain, tapi mereka melabel anak dan mencela orang lain dalam percakapan di dunia nyata maupun maya dengan kata-kata yang mereka sendiri tak mau anak mengucapkannya.
Orangtua berharap anak tenang dan tidak tantrum, tapi mereka menghardik dan memukul anak saat mereka gelisah.
Dst. ...
Duh ... Saya perlu bertaubat ... karena saya juga orangtua yang kadang menerapkan "double standard"
Yeti Widiati 20-130217
Orangtua berharap anak bisa mandiri, tapi mereka mengambil alih penyelesaian masalah anak.
Orangtua berharap anak mau mendengar dan patuh, tapi mereka lebih banyak bicara dan tak cukup sediakan waktu untuk mendengar celoteh anak.
Orangtua berharap anak kritis, tapi mereka jengkel ketika anak membantah dan mendebat.
Orangtua berharap anak bisa mengendalikan emosi, tapi mereka kesal ketika anak marah, menangis dan tantrum.
Orangtua berharap anak kreatif dan penuh ide, tapi mereka tak tahan anak nggratak dan rumah berantakan.
Orangtua berharap anak penuh rasa ingin tahu dan bersemangat belajar, tapi mereka pening saat anak bertanya terus ... terus ... dan terus ...
Orangtua berharap anak membaca buku dan tak bermain games atau gadget, tapi mereka menghabiskan waktu dengan bergadget ria.
Orangtua berharap anak berkata sopan dan bertindak santun, tapi mereka berucap kasar saat tak sependapat dengan orang lain.
Orangtua berharap anak tak dibully dan membully orang lain, tapi mereka melabel anak dan mencela orang lain dalam percakapan di dunia nyata maupun maya dengan kata-kata yang mereka sendiri tak mau anak mengucapkannya.
Orangtua berharap anak tenang dan tidak tantrum, tapi mereka menghardik dan memukul anak saat mereka gelisah.
Dst. ...
Duh ... Saya perlu bertaubat ... karena saya juga orangtua yang kadang menerapkan "double standard"
Yeti Widiati 20-130217
Kamis, 02 Februari 2017
EGO STATE DUNIA MAYA DAN DUNIA NYATA - yws
Medsos itu sebetulnya egaliter.
Kalau tidak benar-benar kenal, memberikan data tertulis atau visual, maka kita tidak tahu seorang yang menulis itu usianya berapa, laki-laki atau perempuan, pendidikannya apa, latar belakang sosial ekonominya bagaimana, dsb. Semua sama dan punya hak sama pula untuk menulis pikiran dan pendapatnya.
Jebakannya adalah, orang bisa terpeleset pada ketiadaan adab dan sopan santun. Terlepasnya kehati-hatian sehingga membuka topeng yang selama ini dijaga di dunia nyata. Atau sebaliknya jaim tiada tara karena ingin memperoleh kesan tertentu yang boleh jadi bertentangan dengan kenyataan.
Jangan-jangan di era digital sekarang ini ada muncul ego state baru, ego state dunia maya dan ego state dunia nyata. Pertanda baik atau pertanda buruk? Ah biasa saja. Dalam konteks Ego State, maka hidup berdampingan dengan ragam ego state dan bergantian bertugas secara harmonis, itu yang lebih penting.
* Ego state adalah mini personality yang muncul karena suatu kondisi atau keadaan tertentu.
* Konsep ego state dikembangkan oleh Paul Federn, seorang psikoanalis. Kemudian dikembangkan menjadi salah satu pendekatan psikoterapi oleh John Watkins dan Edoardo Weis.
Yeti Widiati 18-020217
Medsos itu sebetulnya egaliter.
Kalau tidak benar-benar kenal, memberikan data tertulis atau visual, maka kita tidak tahu seorang yang menulis itu usianya berapa, laki-laki atau perempuan, pendidikannya apa, latar belakang sosial ekonominya bagaimana, dsb. Semua sama dan punya hak sama pula untuk menulis pikiran dan pendapatnya.
Jebakannya adalah, orang bisa terpeleset pada ketiadaan adab dan sopan santun. Terlepasnya kehati-hatian sehingga membuka topeng yang selama ini dijaga di dunia nyata. Atau sebaliknya jaim tiada tara karena ingin memperoleh kesan tertentu yang boleh jadi bertentangan dengan kenyataan.
Jangan-jangan di era digital sekarang ini ada muncul ego state baru, ego state dunia maya dan ego state dunia nyata. Pertanda baik atau pertanda buruk? Ah biasa saja. Dalam konteks Ego State, maka hidup berdampingan dengan ragam ego state dan bergantian bertugas secara harmonis, itu yang lebih penting.
* Ego state adalah mini personality yang muncul karena suatu kondisi atau keadaan tertentu.
* Konsep ego state dikembangkan oleh Paul Federn, seorang psikoanalis. Kemudian dikembangkan menjadi salah satu pendekatan psikoterapi oleh John Watkins dan Edoardo Weis.
Yeti Widiati 18-020217
Rabu, 01 Februari 2017
CARA PANJANG DAN CARA PENDEK - yws
(Konteks Parenting)
Apa yang anda lakukan untuk menghindari terjadinya banjir?
Ada dua macam ketegori jawaban terhadap pertanyaan ini. Cara panjang dan cara pendek.
Cara panjang:
- Tidak menggunduli hutan
- Penghijauan kembali
- Membuat sumur biopori
- Membuang sampah pada tempatnya (bukan di sungai)
- Membuat saluran pembuangan air yang baik
- Tidak "mengurug" danau, kolam alami, sungai, dll
- Tidak menghalangi jalan air untuk mengalir ke laut
- Membuat reservoar/penampungan air hujan
Dll.
Cara pendek:
- Buat tanggul di depan pintu
- Tinggikan jalan dan lantai rumah
- Bangun pagar tembok/pagar tinggi pembatas agar air tidak masuk ke rumah/halaman rumah.
- Buat rumah dua lantai, kalau banjir tinggal naik ke atas.
Cara panjang, prosesnya panjang dan menyeluruh. Tapi berapa banyak yang mau melakukan? Sedikit, karena melelahkan dan tidak terasa langsung efeknya bahkan banyak orang tidak menyadari adanya hubungan sebab akibat antara tindakan di atas dengan terjadinya banjir.
Karena tidak terasa hubungan/akibatnya ini, maka orang kerap merasa tidak terlibat dan tak bertanggung jawab. Berbeda kalau misalnya, segera setelah setiap membuang sampah sembarangan, orang langsung kepeleset. Maka sesuai prinsip conditioning, perilaku yang memperoleh punsihment atau negative reinforcement akan berkurang dan bahkan menghilang.
Cara cepat, ringkas, instan dan mudah, orang lebih suka pilihan short cut. Tinggikan saja lantai rumahnya misalnya. Apakah menghilangkan banjirnya? Tidak sama sekali. Banjir tetap ada, hanya saja ini hanya bertahan dalam jangka pendek.
Cara panjang dan pendek keduanya bisa benar. Kadang keduanya perlu dilakukan. Cara panjang berguna untuk melakukan tindakan preventif dan memiliki dampak jangka panjang. Cara pendek berguna untuk kedaruratan dan hanya memiliki dampak jangka pendek.
Menariknya adalah, ketika melakukan cara panjang, sangat mungkin kita tidak perlu melakukan cara pendek. Sementara bila kita melakukan cara pendek, maka kita tetap perlu melakukan cara panjang. Mengapa? Ya, karena cara pendek bersifat darurat dan hanya berdampak singkat.
Dalam konteks parenting, kita kerap terjebak untuk hanya berfokus pada cara-cara pendek daripada melakukan cara panjang.
Cara panjang dalam parenting, misalnya;
- Membentuk attachment (kedekatan)
- Mengembangkan komunikasi yang mengakrabkan
- Memberikan kesempatan pada anak untuk salah dan memperbaikinnya
- Memberi anak kepercayaan untuk melakukan suatu tugas
- Memberi anak kesempatan bertanggung jawab
- Melakukan aturan dengan konsisten dan konsekuen
- We Time bersama anak
- Menunggu dan memberi kesempatan anak untuk meredakan emosi sesuai kecepatannya
Cara pendek dalam parenting, antara lain;
- Memukul saat anak salah/tantrum
- Membantu anak padahal sudah bisa melakukan
- Lebih banyak komunikasi satu arah dan direct daripada komunikasi yang membuat anak berpikir
- Memerintah dan mengambilkan keputusan untuk anak
- Melarang dan menghukum tanpa bertanya
- Menyogok anak dengan "es krim" saat menangis, marah atau takut
Dll.
Jadi apakah kita memilih untuk melakukan cara pendek namun terus berulang karena masalah tak tuntas?
Atau melakukan cara panjang untuk keuntungan jangka panjang?
Yeti Widiati 17-010217
(Konteks Parenting)
Apa yang anda lakukan untuk menghindari terjadinya banjir?
Ada dua macam ketegori jawaban terhadap pertanyaan ini. Cara panjang dan cara pendek.
Cara panjang:
- Tidak menggunduli hutan
- Penghijauan kembali
- Membuat sumur biopori
- Membuang sampah pada tempatnya (bukan di sungai)
- Membuat saluran pembuangan air yang baik
- Tidak "mengurug" danau, kolam alami, sungai, dll
- Tidak menghalangi jalan air untuk mengalir ke laut
- Membuat reservoar/penampungan air hujan
Dll.
Cara pendek:
- Buat tanggul di depan pintu
- Tinggikan jalan dan lantai rumah
- Bangun pagar tembok/pagar tinggi pembatas agar air tidak masuk ke rumah/halaman rumah.
- Buat rumah dua lantai, kalau banjir tinggal naik ke atas.
Cara panjang, prosesnya panjang dan menyeluruh. Tapi berapa banyak yang mau melakukan? Sedikit, karena melelahkan dan tidak terasa langsung efeknya bahkan banyak orang tidak menyadari adanya hubungan sebab akibat antara tindakan di atas dengan terjadinya banjir.
Karena tidak terasa hubungan/akibatnya ini, maka orang kerap merasa tidak terlibat dan tak bertanggung jawab. Berbeda kalau misalnya, segera setelah setiap membuang sampah sembarangan, orang langsung kepeleset. Maka sesuai prinsip conditioning, perilaku yang memperoleh punsihment atau negative reinforcement akan berkurang dan bahkan menghilang.
Cara cepat, ringkas, instan dan mudah, orang lebih suka pilihan short cut. Tinggikan saja lantai rumahnya misalnya. Apakah menghilangkan banjirnya? Tidak sama sekali. Banjir tetap ada, hanya saja ini hanya bertahan dalam jangka pendek.
Cara panjang dan pendek keduanya bisa benar. Kadang keduanya perlu dilakukan. Cara panjang berguna untuk melakukan tindakan preventif dan memiliki dampak jangka panjang. Cara pendek berguna untuk kedaruratan dan hanya memiliki dampak jangka pendek.
Menariknya adalah, ketika melakukan cara panjang, sangat mungkin kita tidak perlu melakukan cara pendek. Sementara bila kita melakukan cara pendek, maka kita tetap perlu melakukan cara panjang. Mengapa? Ya, karena cara pendek bersifat darurat dan hanya berdampak singkat.
Dalam konteks parenting, kita kerap terjebak untuk hanya berfokus pada cara-cara pendek daripada melakukan cara panjang.
Cara panjang dalam parenting, misalnya;
- Membentuk attachment (kedekatan)
- Mengembangkan komunikasi yang mengakrabkan
- Memberikan kesempatan pada anak untuk salah dan memperbaikinnya
- Memberi anak kepercayaan untuk melakukan suatu tugas
- Memberi anak kesempatan bertanggung jawab
- Melakukan aturan dengan konsisten dan konsekuen
- We Time bersama anak
- Menunggu dan memberi kesempatan anak untuk meredakan emosi sesuai kecepatannya
Cara pendek dalam parenting, antara lain;
- Memukul saat anak salah/tantrum
- Membantu anak padahal sudah bisa melakukan
- Lebih banyak komunikasi satu arah dan direct daripada komunikasi yang membuat anak berpikir
- Memerintah dan mengambilkan keputusan untuk anak
- Melarang dan menghukum tanpa bertanya
- Menyogok anak dengan "es krim" saat menangis, marah atau takut
Dll.
Jadi apakah kita memilih untuk melakukan cara pendek namun terus berulang karena masalah tak tuntas?
Atau melakukan cara panjang untuk keuntungan jangka panjang?
Yeti Widiati 17-010217
Senin, 30 Januari 2017
KETIKA ANAK MENYELESAIKAN MASALAH DENGAN KETAGIHAN BERMAIN VIDEO GAMES - yws
(Konteks Ego State Therapy)
Sebentar ..... jangan langsung ngebul ketika melihat anak kecanduan main video games. Boleh jadi ada informasi yang bisa kita peroleh dari games apa yang dipilih anak (atau bahkan orang dewasa) yang mereka mainkan berulang-ulang. Informasi ini akan berguna bagi kita para orang dewasa untuk membuat rencana penanganan yang lebih efektif, daripada hanya sekedar melarang atau membatasi penggunaan video games.
Menurut saya (dari hasil pengamatan), semua kecanduan, entah itu kecanduan games, merokok, minuman keras, belanja, belajar, bekerja, narkoba, seks, bahkan makan sekalipun berkait dengan adanya hal yang "kurang" pada diri seseorang. Perilaku adiksi/kecanduan yang dilakukan, sebetulnya adalah upaya untuk menyelesaikan masalah. Sayangnya alih-alih berhasil menyelesaikan masalah malah memperburuk masalah atau bahkan menimbulkan masalah baru. Menimbulkan masalah kesehatan, fokus, managemen waktu, relasi sosial, emosi, dll. Akhirnya jadilah seperti lingkaran setan yang tidak berakhir.
"Kekurangan" yang menjadi latar belakang terjadinya kecanduan video games, bisa berupa
Ragam jenis video games itu luar biasa banyak dengan karakteristik yang berbeda. Dari mulai untuk balita sampai dewasa, perempuan atau laki, yang fun, berpikir, petualangan, olah raga, kekerasan, dll. Jadi ada yang memang dibuat serius dengan tujuan spesifik, dan ada yang lebih ringan dari itu.
Yang jelas, hampir semua games dirancang sedemikian rupa agar orang tertarik memainkannya. Melibatkan semua sensori (multimedia). Oleh karena itu mengapa games dibuat dengan warna yang menarik, suara yang exciting, menyita perhatian dan kinestetik.
Hal-hal semacam ini yang justru tidak dilakukan oleh para orangtua dan guru, dalam proses belajar mengajar di rumah maupun di sekolah, sehingga metode pembelajaran cenderung minimalis dan searah. Tak ayal, anak menjadi bosan dan mencari cara lain yang menurut mereka lebih menyenangkan dan mengasyikkan. Kalau guru dan orangtua marah-marah karena anak tidak belajar, semakin kekal-lah asosiasi bahwa belajar itu adalah kegiatan yang tidak menyenangkan.
Games yang relatif paling cepat membuat kecanduan biasanya adalah games online. Karena rancangannya yang dibuat "menggantung". Tidak pernah jelas kapan bisa menang. Seperti konsep peluang kemenangan dalam berjudi. 1 kali kebetulan menang, selanjutnya kalah terus. Tidak ada pola yang bisa diikuti supaya peluang menang lebih besar. Karena sering kalah namun pernah menang, maka hal ini akan mendorong anak-anak untuk memainkannya lagi dan lagi. Bagi anak2 dengan ragam "kekurangan" tadi, maka merekalah yang akan paling rentan terjebak oleh 'permainan' games.
Seperti saya sampaikan di atas, maka pilihan jenis atau tema games bisa menjadi informasi bagi para orangtua, mengenai apa sebetulnya "kekurangan" yang dialami anak.
Untuk analisis mendalam, memang dibutuhkan orang yang profesional. Tapi sebagai orangtua atau pun guru, juga bisa melakukan sesuai dengan kemampuannya untuk mengambil tindakan awal.
Anak-anak yang memiliki konsep diri rendah (dan ini cukup banyak). Jarang atau bahkan tidak pernah berprestasi, berpeluang mencari games yang murah hati memberikan "reward". Tidak judging, selalu memberi semangat. "Gak ada matinya". Kalau salah boleh main lagi tanpa batasan. Kata-kata, Excellent, Good Job, Superb, dll yang "diucapkan" dengan suara bersemangat oleh games, akan menjadi kepuasan tersendiri bagi anak dan juga "memberikan" pengakuan kepada kemampuan dirinya.
Anak-anak yang di dunia nyata tidak memperoleh prestasi atau membuat pencapaian, akan mencari pengakuan itu di dunia maya melalui games yang royal memberikan hadiah dan pujian maya baginya. Sedikit banyak, cara ini membuat anak memperoleh kepuasan sementara dari kenyataan hidup yang membuatnya kurang nyaman.
Dan ketika ketidak-nyamanan itu muncul lagi, misalnya, saat ia dimarahi guru karena tidak buat PR. Dimarahi orangtua karena nilai pelajarannya rendah, dst, akan mendorong anak untuk kembali terjerat dalam jebakan lingkaran setan Video Games. Menikmati candu pujian, skor yang meningkat, kepuasan yang bersifat maya. Anak memunculkan "ego state" menghargai dan mengapresiasi dalam wujud games. Sekaligus juga skema untuk menyelesaikan masalah. Dilematis, di satu sisi skema ini menyelesaikan masalah untuk jangka pendek, namun di sisi lain tidak menyelesaikan bahkan memperburuk masalah. Sehingga boleh dikatakan bahwa cara ini adalah menyelesaikan "masalah dengan masalah".
Dengan keterbatasan kemampuan berpikir anak, maka sebetulnya hal ini bisa dipahami. Sehingga sebetulnya orangtua lah yang berperan untuk mencontohkan dan mengajarkan bagaimana cara penyelesaian yang lebih tepat.
Ketik anak masih balita, maka penyelesaian masalah alami yang mereka lakukan adalah dengan bermain peran. Mereka membuat percakapan antara cangkir dan gelas mainannya, atau antar boneka-bonekanya, atau antara dirinya dengan kucing, misalnya. Personifikasi benda (membuat benda menjadi manusia hidup) adalah hal umum dan alamiah pada usia ini. Melarang anak bermain peran menjadi kontraproduktif dengan tujuan besar yang diharapkan.
Dalam Psikodrama, bermain peran disusun menjadi teknik terstruktur untuk pencapaian tujuan terapi dengan mengelola ego state-ego state yang saling berkonflik. (Ego state adalah mini personality yang ada pada setiap orang)
Nah, pada anak yang usianya sudah lewat balita, ego state bisa "didamaikan" dengan cara yang lebih variatif.
Setiap manusia akan mencari pengakuan dan penerimaan dari orang-orang di sekitarnya. Anak yang beruntung memperoleh pengakuan dan penerimaan itu, dari orangtuanya yang mengekspresikan penerimaan dalam bentuk ucapan, ekspresi, sentuhan atau perilaku secara konvergen (match dengan perasaan).
Sebagian anak yang lain, harus berusaha keras untuk memperoleh pengakuan dan penerimaan orangtua, misalnya dengan sikap selalu patuh, pencapaian prestasi akademik atau prestasi lainnya yang dikira anak akan membuat orangtua senang dan bangga, sehingga memberikan pujian.
Dan sisanya adalah anak-anak yang frustrasi karena merasa tidak memperoleh pengakuan dan penerimaan dari orangtua. Baik secara fisik, sifat, pilihan maupun prestasi. Sudah belajar habis-habisan pun mereka tidak pernah mendapat peringat 3 terbesar di kelas.
Akhirnya, short cut yang dilakukan adalah memunculkan perasaan berharga melalui pengakuan dan apresiasi yang lain. Dan video games yang "murah hati" memuji, memberikan itu semua. Anak pun terbius dengan skor yang semakin meningkat, pujian Good, Excellent, Extraordinary. Anak boleh salah dan "mati". Ia selalu boleh "membeli" kembali nyawanya. Ada harapan yang selalu diberikan.
Itu kan semua maya? Betul, tapi bagi anak-anak ini semua dirasakan seolah nyata. Memberikan kesenangan sementara, melupakan kedukaan, sakit hati, dan kepedihan karena kegagalan dan pengabaian sehari-hari. Ketika mereka dipaksa menghadapi kenyataan yang menyakitkan, maka mereka akan kembali mengharapkan kesenangan maya ini. Mirip dengan cara kerja narkoba ya.
Nah, bila kita ingin menolong anak-anak kita untuk tidak larut dengan video games dan mengabaikan hal-hal lain, maka saya mengajak kita untuk mengecek lagi,
Jadi, tak cukup menghentikan adiksi games hanya dengan melarang/membatasi anak bermain games, bukan?
Note:
*Video games juga memiliki hal positif. Bahasan saya lebih kepada anak2 atau orang yang kurang bisa memanage waktu dan menggunakan video games secara berlebihan sehingga mengakibatkan ketidak-seimbangan dalam hidup.
Yeti Widiati 16-300117
(Konteks Ego State Therapy)
Sebentar ..... jangan langsung ngebul ketika melihat anak kecanduan main video games. Boleh jadi ada informasi yang bisa kita peroleh dari games apa yang dipilih anak (atau bahkan orang dewasa) yang mereka mainkan berulang-ulang. Informasi ini akan berguna bagi kita para orang dewasa untuk membuat rencana penanganan yang lebih efektif, daripada hanya sekedar melarang atau membatasi penggunaan video games.
Menurut saya (dari hasil pengamatan), semua kecanduan, entah itu kecanduan games, merokok, minuman keras, belanja, belajar, bekerja, narkoba, seks, bahkan makan sekalipun berkait dengan adanya hal yang "kurang" pada diri seseorang. Perilaku adiksi/kecanduan yang dilakukan, sebetulnya adalah upaya untuk menyelesaikan masalah. Sayangnya alih-alih berhasil menyelesaikan masalah malah memperburuk masalah atau bahkan menimbulkan masalah baru. Menimbulkan masalah kesehatan, fokus, managemen waktu, relasi sosial, emosi, dll. Akhirnya jadilah seperti lingkaran setan yang tidak berakhir.
"Kekurangan" yang menjadi latar belakang terjadinya kecanduan video games, bisa berupa
- Kurang perhatian, penghargaan dan kasih sayang dari orangtua
- Kurang pengaturan sistem, managemen waktu, disiplin dan pengkondisian positif yang disusun oleh orangtua
- Anak kurang memiliki kemampuan kendali diri, emosi dan dorongan
- Anak kurang luas minatnya dan kurang memiliki alternatif kegiatan produktif (dipengaruhi orangtua)
- Anak kurang percaya diri, konsep diri rendah, kurang berteman
- Dan kurang-kurang lainnya
Ragam jenis video games itu luar biasa banyak dengan karakteristik yang berbeda. Dari mulai untuk balita sampai dewasa, perempuan atau laki, yang fun, berpikir, petualangan, olah raga, kekerasan, dll. Jadi ada yang memang dibuat serius dengan tujuan spesifik, dan ada yang lebih ringan dari itu.
Yang jelas, hampir semua games dirancang sedemikian rupa agar orang tertarik memainkannya. Melibatkan semua sensori (multimedia). Oleh karena itu mengapa games dibuat dengan warna yang menarik, suara yang exciting, menyita perhatian dan kinestetik.
Hal-hal semacam ini yang justru tidak dilakukan oleh para orangtua dan guru, dalam proses belajar mengajar di rumah maupun di sekolah, sehingga metode pembelajaran cenderung minimalis dan searah. Tak ayal, anak menjadi bosan dan mencari cara lain yang menurut mereka lebih menyenangkan dan mengasyikkan. Kalau guru dan orangtua marah-marah karena anak tidak belajar, semakin kekal-lah asosiasi bahwa belajar itu adalah kegiatan yang tidak menyenangkan.
Games yang relatif paling cepat membuat kecanduan biasanya adalah games online. Karena rancangannya yang dibuat "menggantung". Tidak pernah jelas kapan bisa menang. Seperti konsep peluang kemenangan dalam berjudi. 1 kali kebetulan menang, selanjutnya kalah terus. Tidak ada pola yang bisa diikuti supaya peluang menang lebih besar. Karena sering kalah namun pernah menang, maka hal ini akan mendorong anak-anak untuk memainkannya lagi dan lagi. Bagi anak2 dengan ragam "kekurangan" tadi, maka merekalah yang akan paling rentan terjebak oleh 'permainan' games.
Seperti saya sampaikan di atas, maka pilihan jenis atau tema games bisa menjadi informasi bagi para orangtua, mengenai apa sebetulnya "kekurangan" yang dialami anak.
Untuk analisis mendalam, memang dibutuhkan orang yang profesional. Tapi sebagai orangtua atau pun guru, juga bisa melakukan sesuai dengan kemampuannya untuk mengambil tindakan awal.
Anak-anak yang memiliki konsep diri rendah (dan ini cukup banyak). Jarang atau bahkan tidak pernah berprestasi, berpeluang mencari games yang murah hati memberikan "reward". Tidak judging, selalu memberi semangat. "Gak ada matinya". Kalau salah boleh main lagi tanpa batasan. Kata-kata, Excellent, Good Job, Superb, dll yang "diucapkan" dengan suara bersemangat oleh games, akan menjadi kepuasan tersendiri bagi anak dan juga "memberikan" pengakuan kepada kemampuan dirinya.
Anak-anak yang di dunia nyata tidak memperoleh prestasi atau membuat pencapaian, akan mencari pengakuan itu di dunia maya melalui games yang royal memberikan hadiah dan pujian maya baginya. Sedikit banyak, cara ini membuat anak memperoleh kepuasan sementara dari kenyataan hidup yang membuatnya kurang nyaman.
Dan ketika ketidak-nyamanan itu muncul lagi, misalnya, saat ia dimarahi guru karena tidak buat PR. Dimarahi orangtua karena nilai pelajarannya rendah, dst, akan mendorong anak untuk kembali terjerat dalam jebakan lingkaran setan Video Games. Menikmati candu pujian, skor yang meningkat, kepuasan yang bersifat maya. Anak memunculkan "ego state" menghargai dan mengapresiasi dalam wujud games. Sekaligus juga skema untuk menyelesaikan masalah. Dilematis, di satu sisi skema ini menyelesaikan masalah untuk jangka pendek, namun di sisi lain tidak menyelesaikan bahkan memperburuk masalah. Sehingga boleh dikatakan bahwa cara ini adalah menyelesaikan "masalah dengan masalah".
Dengan keterbatasan kemampuan berpikir anak, maka sebetulnya hal ini bisa dipahami. Sehingga sebetulnya orangtua lah yang berperan untuk mencontohkan dan mengajarkan bagaimana cara penyelesaian yang lebih tepat.
Ketik anak masih balita, maka penyelesaian masalah alami yang mereka lakukan adalah dengan bermain peran. Mereka membuat percakapan antara cangkir dan gelas mainannya, atau antar boneka-bonekanya, atau antara dirinya dengan kucing, misalnya. Personifikasi benda (membuat benda menjadi manusia hidup) adalah hal umum dan alamiah pada usia ini. Melarang anak bermain peran menjadi kontraproduktif dengan tujuan besar yang diharapkan.
Dalam Psikodrama, bermain peran disusun menjadi teknik terstruktur untuk pencapaian tujuan terapi dengan mengelola ego state-ego state yang saling berkonflik. (Ego state adalah mini personality yang ada pada setiap orang)
Nah, pada anak yang usianya sudah lewat balita, ego state bisa "didamaikan" dengan cara yang lebih variatif.
Setiap manusia akan mencari pengakuan dan penerimaan dari orang-orang di sekitarnya. Anak yang beruntung memperoleh pengakuan dan penerimaan itu, dari orangtuanya yang mengekspresikan penerimaan dalam bentuk ucapan, ekspresi, sentuhan atau perilaku secara konvergen (match dengan perasaan).
Sebagian anak yang lain, harus berusaha keras untuk memperoleh pengakuan dan penerimaan orangtua, misalnya dengan sikap selalu patuh, pencapaian prestasi akademik atau prestasi lainnya yang dikira anak akan membuat orangtua senang dan bangga, sehingga memberikan pujian.
Dan sisanya adalah anak-anak yang frustrasi karena merasa tidak memperoleh pengakuan dan penerimaan dari orangtua. Baik secara fisik, sifat, pilihan maupun prestasi. Sudah belajar habis-habisan pun mereka tidak pernah mendapat peringat 3 terbesar di kelas.
Akhirnya, short cut yang dilakukan adalah memunculkan perasaan berharga melalui pengakuan dan apresiasi yang lain. Dan video games yang "murah hati" memuji, memberikan itu semua. Anak pun terbius dengan skor yang semakin meningkat, pujian Good, Excellent, Extraordinary. Anak boleh salah dan "mati". Ia selalu boleh "membeli" kembali nyawanya. Ada harapan yang selalu diberikan.
Itu kan semua maya? Betul, tapi bagi anak-anak ini semua dirasakan seolah nyata. Memberikan kesenangan sementara, melupakan kedukaan, sakit hati, dan kepedihan karena kegagalan dan pengabaian sehari-hari. Ketika mereka dipaksa menghadapi kenyataan yang menyakitkan, maka mereka akan kembali mengharapkan kesenangan maya ini. Mirip dengan cara kerja narkoba ya.
Nah, bila kita ingin menolong anak-anak kita untuk tidak larut dengan video games dan mengabaikan hal-hal lain, maka saya mengajak kita untuk mengecek lagi,
- apa sebetulnya yang dihayati anak terhadap hubungan dengan orangtuanya?
- bagaimana penerimaan kita terhadap anak apa adanya?
- apakah kita menunjukkan penghargaan dan pengakuan pada anak kita?
- apakah kita menawarkan alternatif aktivitas beragam terutam "We Time" bersama anak yang berkualitas?
- apakah kita memiliki konsep pendidikan yang jelas dan konsisten serta konsekuen melaksanakannya?
- apakah kita mencontohkan, membantu dan membimbing anak agar dapat mengembangkan strategi pengendalian diri dan pengaturan waktu yang lebih efektif
- dll.
Jadi, tak cukup menghentikan adiksi games hanya dengan melarang/membatasi anak bermain games, bukan?
Note:
*Video games juga memiliki hal positif. Bahasan saya lebih kepada anak2 atau orang yang kurang bisa memanage waktu dan menggunakan video games secara berlebihan sehingga mengakibatkan ketidak-seimbangan dalam hidup.
Yeti Widiati 16-300117
Kamis, 26 Januari 2017
RESILIENSI - yws
(Konteks sembuh dari kejadian buruk dan trauma)
Coba kita lemparkan bola tenis ke lantai yang keras, maka ia akan memantul lebih tinggi dibanding kita melemparkan buah jeruk misalnya. Kemampuan benda untuk memantul kembali (bounce back) setelah terbentur/dibenturkan itu di sebut dengan istilah "daya lentur". Daya lentur ini yang dalam konteks psikologi disebut sebagai "resiliensi" (resilience).
Jadi pengertian sederhana dari resiliensi adalah, kemampuan seseorang untuk kembali ke keadaan semula atau bahkan lebih baik dari sebelum ia mengalami kejadian buruk.
Bila kita analogikan dengan bola tenis tadi, maka bola yang paling lentur adalah yang ketika dibenturkan bisa memantul lebih besar dari tingginya semula. Sehingga orang yang memiliki daya lentur yang baik adalah mereka yang bukan saja bisa bertahan dari kejadian buruk, namun lebih dari itu justru dapat mengambil hikmah dan memanfaatkan kejadian buruk dalam hidupnya untuk menampilkan performa yang lebih baik, dalam keseharian, bekerja, akademik, sosial, maupun dalam hal-hal yang sifatnya lebih spiritual seperti kebijaksanaan, keluasan pemikiran, dll.
Mereka yang berhasil maju kembali setelah kejadian buruk dikatakan anak muda sekarang, sudah "move on" sebaliknya yang masih juga terpuruk dan berkutat dengan kesedihan dan kehancurannya disebut "gagal move on".
Kalau istilah "move on" mengacu pada penggambaran situasinya, maka resiliensi lebih berbicara pada seberapa lentur seseorang untuk bisa segera move on.
Dalam tulisan saya LUKA DI KAKI, LUKA DI HATI, saya berbicara mengenai analogi penanganan luka fisik dan luka psikologis untuk menghindari terjadinya trauma. Maka di sini saya mencoba menguraikan mengenai hal-hal apa yang dapat kita lakukan untuk membuat kita memiliki resiliensi/daya lentur yang lebih baik, sehingga lebih cepat pulih, bahkan menampilkan performa lebih baik dari kondisi sebelum terkena kejadian buruk.
Hal-hal yang mempengaruhi resiliensi seseorang, di antaranya adalah;
1. Karakeristik kejadian buruk yang dialami
- Ada kejadian buruk yang secara OBYEKTIF memang berat
Misalnya, mengalami kecelakaan yang menyebabkan hilangnya beberapa orang tercinta atau mengakibatkan kecacatan. dll.
- Ada kejadian buruk yang secara SUBYEKTIF dipersepsi sebagai hal berat.
Misalnya, kematian hewan peliharaan, kehilangan barang. dll. Bisa sangat berat bila ada meaning penting pada objek2 tertentu.
- Ada kejadian buruk kecil/besar dan berlangsung lama (sejak kecil)
Misalnya, pola asuh yang salah yang diterapkan sejak kecil, kdrt, pelecehan seksual, bullying yang dialami sejak kecil, situasi perang.
- Ada kejadian buruk kecil/besar yang berlangsung hanya satu kali dalam hidup.
Misalnya, bencana alam, kecelakaan, dll.
Semakin berat suatu kejadian buruk, apalagi bila menjadi traumatik, maka kemampuan untuk bangkit kembali membutuhkan usaha lebih besar.
2. Konsep diri
Konsep diri membuat membentuk cara pandang apakah seseorang merasa mampu atau tidak mampu menghadapi tekanan. Bila dalam konteks fisik, daya tahan dan kebugaran itu adalah sesuatu yang obyektif dan dapat diukur, maka dalam konteks psikologis, banyak kasus, kemampuan ini lebih banyak bersifat subyektif dan sulit diukur serta dibandingkan.
Pola asuh dan pendidikan, adalah hal yang crucial dan sigifikan berpengaruh terhadap konsep diri. Terkait bagaimana orang-orang di lingkungan membentuk diri seorang anak.
Orangtua yang sering melakukan judging/labelling negatif terhadap anak dan senang membandingkan satu anak dengan anak lainnya, berpeluang menghasilkan anak yang memiliki konsep diri negatif pula.
Orangtua yang bersikap permisif, selalu membantu anak dan
orangtua yang melakukan kekerasan, memperlakukan anak sebagai obyek yang bisa diperlakukan sekehendak hati, secara tidak langsung membentuk dan 'menempelkan' konsep "korban" pada anak. Sehingga anak selalu merasa bahwa ia tak mampu, tak boleh melawan dan tak layak berpikir kritis. Ketika ia mengalami kejadian buruk ia pun akan bersikap sebagai korban dengan menyalahkan pihak2 lain di sekitarnya.
Saya menganalogikan pola asuh yang buruk, itu seperti akar pohon yang digerogoti rayap, sehingga rapuh dan kapanpun angin kencang datang, maka ia akan jatuh dan rubuh.
3. Support system lingkungan
Ini adalah orang-orang penting di lingkungan kita. Bisa orangtua, saudara, pasangan, guru, teman, boss, atau siapa pun orang yang Allah datangkan dan menjadi figur support bagi diri kita. Mereka yang membantu, memberikan dukungan dan dorongan. Kadang mereka tidak terlihat ketika kita begitu fokus pada kesedihan kita. Padahal tanpa mereka kita tidak bisa berdiri.
Analogi dengan pohon yang digerogoti rayap, maka support system ini bisa berupa pagar yang menopang pohon, pupuk yang ditaburkan, tanah yang subur, hujan yang turun, obat pembunuh rayap, dlsb. Tugas kita adalah mengumpulkan sebanyak mungkin support system ini. Dalam konteks konseling dan terapi, maka salah satu tugas konselor dan terapis (termasuk psikolog di dalamnya) adalah mendorong klien menemukan sumber-sumber yang dapat menguatkan dirinya. Sehingga ia dapat bangkit kembali.
Seringkali, mereka yang merasa tidak memiliki siapa pun, merasa harus bangkit sendiri, meyakini bahwa orang lain akan mengejeknya kalau minta bantuan, tidak ingin kelihatan lemah sehingga tidak minta bantuan, membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih kembali.
Sebaliknya, mereka yang menuntut bantuan orang lain tapi minimal melakukan usaha pun juga kerap ditinggalkan banyak orang yang lelah mendengarkan keluhannya.
4. Kemampuan menangkap meaning dari setiap kejadian buruk atau pun baik dalam hidup
Pengalaman hidup Victor Frankl di beberapa kamp konsentrasi NAZI yang kemudian dirumuskan menjadi pendekatan Logoterapi, menurut saya adalah hal luar biasa. Mereka yang bisa menemukan meaning/arti positif atau hikmah dari kejadian yang dialaminya, biasanya memiliki resiliensi lebih tinggi.
Seringkali orang-orang yang memiliki resiliensi tinggi juga memiliki tingkat spiritualitas yang tinggi karena bisa "keluar" dari masalahnya dan melihat masalahnya dalam konteks cara pandang yang lebih utuh dan komprehensif. Mereka bisa menemukan "rahasia" dari kejadian-kejadian yang dialaminya. Mereka memperoleh ilham, mengalami pencerahan/enlightment.
Kemampuan menangkap meaning ini adalah kemampuan yang subtil/halus. Rumus mengajarkannya tidak sederhana. Namun saya kira anak-anak yang dibiasakan berpikir kritis, antisipatif, abstrak problem solving dan boleh bertanya banyak hal dan boleh berpendapat, juga dikembangkan sensitivitasnya serta kemampuan empati, berpeluang lebih besar untuk bisa mengembangkan kemampuan menangkap meaning ini.
Oh ya, saya tidak membahas mengenai karakteristik pribadi yang bersifat given, meskipun boleh jadi hal itu juga berpengaruh terhadap kelenturan seseorang dalam menghadapi hidupnya. Mengapa? Karena saya ingin berfokus pada apa yang bisa kita usahakan. Sesuatu yang given lebih baik kita terima/accept sebagai keunikan kita dan cara mencari strategi daripada sebagai penghalang dan sumber frustrasi.
Beruntungnya adalah, Allah Maha Pengasih dan Maha Adil. Ia memang memberikan keunikan pada kita di satu sisi, namun memberikan resources positif di sisi yang lain. Tugas kita adalah mengumpulkan sebanyak mungkin resources positif tersebut, sehingga menjadi kekuatan kita dalam menghadapi segala kesulitan dalam hidup.
*Seorang mukmin adalah mereka yang berprasangka baik kepada Tuhannya.
Yeti Widiati 14-260117
(Konteks sembuh dari kejadian buruk dan trauma)
Coba kita lemparkan bola tenis ke lantai yang keras, maka ia akan memantul lebih tinggi dibanding kita melemparkan buah jeruk misalnya. Kemampuan benda untuk memantul kembali (bounce back) setelah terbentur/dibenturkan itu di sebut dengan istilah "daya lentur". Daya lentur ini yang dalam konteks psikologi disebut sebagai "resiliensi" (resilience).
Jadi pengertian sederhana dari resiliensi adalah, kemampuan seseorang untuk kembali ke keadaan semula atau bahkan lebih baik dari sebelum ia mengalami kejadian buruk.
Bila kita analogikan dengan bola tenis tadi, maka bola yang paling lentur adalah yang ketika dibenturkan bisa memantul lebih besar dari tingginya semula. Sehingga orang yang memiliki daya lentur yang baik adalah mereka yang bukan saja bisa bertahan dari kejadian buruk, namun lebih dari itu justru dapat mengambil hikmah dan memanfaatkan kejadian buruk dalam hidupnya untuk menampilkan performa yang lebih baik, dalam keseharian, bekerja, akademik, sosial, maupun dalam hal-hal yang sifatnya lebih spiritual seperti kebijaksanaan, keluasan pemikiran, dll.
Mereka yang berhasil maju kembali setelah kejadian buruk dikatakan anak muda sekarang, sudah "move on" sebaliknya yang masih juga terpuruk dan berkutat dengan kesedihan dan kehancurannya disebut "gagal move on".
Kalau istilah "move on" mengacu pada penggambaran situasinya, maka resiliensi lebih berbicara pada seberapa lentur seseorang untuk bisa segera move on.
Dalam tulisan saya LUKA DI KAKI, LUKA DI HATI, saya berbicara mengenai analogi penanganan luka fisik dan luka psikologis untuk menghindari terjadinya trauma. Maka di sini saya mencoba menguraikan mengenai hal-hal apa yang dapat kita lakukan untuk membuat kita memiliki resiliensi/daya lentur yang lebih baik, sehingga lebih cepat pulih, bahkan menampilkan performa lebih baik dari kondisi sebelum terkena kejadian buruk.
Hal-hal yang mempengaruhi resiliensi seseorang, di antaranya adalah;
1. Karakeristik kejadian buruk yang dialami
- Ada kejadian buruk yang secara OBYEKTIF memang berat
Misalnya, mengalami kecelakaan yang menyebabkan hilangnya beberapa orang tercinta atau mengakibatkan kecacatan. dll.
- Ada kejadian buruk yang secara SUBYEKTIF dipersepsi sebagai hal berat.
Misalnya, kematian hewan peliharaan, kehilangan barang. dll. Bisa sangat berat bila ada meaning penting pada objek2 tertentu.
- Ada kejadian buruk kecil/besar dan berlangsung lama (sejak kecil)
Misalnya, pola asuh yang salah yang diterapkan sejak kecil, kdrt, pelecehan seksual, bullying yang dialami sejak kecil, situasi perang.
- Ada kejadian buruk kecil/besar yang berlangsung hanya satu kali dalam hidup.
Misalnya, bencana alam, kecelakaan, dll.
Semakin berat suatu kejadian buruk, apalagi bila menjadi traumatik, maka kemampuan untuk bangkit kembali membutuhkan usaha lebih besar.
2. Konsep diri
Konsep diri membuat membentuk cara pandang apakah seseorang merasa mampu atau tidak mampu menghadapi tekanan. Bila dalam konteks fisik, daya tahan dan kebugaran itu adalah sesuatu yang obyektif dan dapat diukur, maka dalam konteks psikologis, banyak kasus, kemampuan ini lebih banyak bersifat subyektif dan sulit diukur serta dibandingkan.
Pola asuh dan pendidikan, adalah hal yang crucial dan sigifikan berpengaruh terhadap konsep diri. Terkait bagaimana orang-orang di lingkungan membentuk diri seorang anak.
Orangtua yang sering melakukan judging/labelling negatif terhadap anak dan senang membandingkan satu anak dengan anak lainnya, berpeluang menghasilkan anak yang memiliki konsep diri negatif pula.
Orangtua yang bersikap permisif, selalu membantu anak dan
orangtua yang melakukan kekerasan, memperlakukan anak sebagai obyek yang bisa diperlakukan sekehendak hati, secara tidak langsung membentuk dan 'menempelkan' konsep "korban" pada anak. Sehingga anak selalu merasa bahwa ia tak mampu, tak boleh melawan dan tak layak berpikir kritis. Ketika ia mengalami kejadian buruk ia pun akan bersikap sebagai korban dengan menyalahkan pihak2 lain di sekitarnya.
Saya menganalogikan pola asuh yang buruk, itu seperti akar pohon yang digerogoti rayap, sehingga rapuh dan kapanpun angin kencang datang, maka ia akan jatuh dan rubuh.
3. Support system lingkungan
Ini adalah orang-orang penting di lingkungan kita. Bisa orangtua, saudara, pasangan, guru, teman, boss, atau siapa pun orang yang Allah datangkan dan menjadi figur support bagi diri kita. Mereka yang membantu, memberikan dukungan dan dorongan. Kadang mereka tidak terlihat ketika kita begitu fokus pada kesedihan kita. Padahal tanpa mereka kita tidak bisa berdiri.
Analogi dengan pohon yang digerogoti rayap, maka support system ini bisa berupa pagar yang menopang pohon, pupuk yang ditaburkan, tanah yang subur, hujan yang turun, obat pembunuh rayap, dlsb. Tugas kita adalah mengumpulkan sebanyak mungkin support system ini. Dalam konteks konseling dan terapi, maka salah satu tugas konselor dan terapis (termasuk psikolog di dalamnya) adalah mendorong klien menemukan sumber-sumber yang dapat menguatkan dirinya. Sehingga ia dapat bangkit kembali.
Seringkali, mereka yang merasa tidak memiliki siapa pun, merasa harus bangkit sendiri, meyakini bahwa orang lain akan mengejeknya kalau minta bantuan, tidak ingin kelihatan lemah sehingga tidak minta bantuan, membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih kembali.
Sebaliknya, mereka yang menuntut bantuan orang lain tapi minimal melakukan usaha pun juga kerap ditinggalkan banyak orang yang lelah mendengarkan keluhannya.
4. Kemampuan menangkap meaning dari setiap kejadian buruk atau pun baik dalam hidup
Pengalaman hidup Victor Frankl di beberapa kamp konsentrasi NAZI yang kemudian dirumuskan menjadi pendekatan Logoterapi, menurut saya adalah hal luar biasa. Mereka yang bisa menemukan meaning/arti positif atau hikmah dari kejadian yang dialaminya, biasanya memiliki resiliensi lebih tinggi.
Seringkali orang-orang yang memiliki resiliensi tinggi juga memiliki tingkat spiritualitas yang tinggi karena bisa "keluar" dari masalahnya dan melihat masalahnya dalam konteks cara pandang yang lebih utuh dan komprehensif. Mereka bisa menemukan "rahasia" dari kejadian-kejadian yang dialaminya. Mereka memperoleh ilham, mengalami pencerahan/enlightment.
Kemampuan menangkap meaning ini adalah kemampuan yang subtil/halus. Rumus mengajarkannya tidak sederhana. Namun saya kira anak-anak yang dibiasakan berpikir kritis, antisipatif, abstrak problem solving dan boleh bertanya banyak hal dan boleh berpendapat, juga dikembangkan sensitivitasnya serta kemampuan empati, berpeluang lebih besar untuk bisa mengembangkan kemampuan menangkap meaning ini.
Oh ya, saya tidak membahas mengenai karakteristik pribadi yang bersifat given, meskipun boleh jadi hal itu juga berpengaruh terhadap kelenturan seseorang dalam menghadapi hidupnya. Mengapa? Karena saya ingin berfokus pada apa yang bisa kita usahakan. Sesuatu yang given lebih baik kita terima/accept sebagai keunikan kita dan cara mencari strategi daripada sebagai penghalang dan sumber frustrasi.
Beruntungnya adalah, Allah Maha Pengasih dan Maha Adil. Ia memang memberikan keunikan pada kita di satu sisi, namun memberikan resources positif di sisi yang lain. Tugas kita adalah mengumpulkan sebanyak mungkin resources positif tersebut, sehingga menjadi kekuatan kita dalam menghadapi segala kesulitan dalam hidup.
*Seorang mukmin adalah mereka yang berprasangka baik kepada Tuhannya.
Yeti Widiati 14-260117
Langganan:
Postingan (Atom)
"KESEMPATAN", KEBUTUHAN ANAK UNTUK BERKEMBANG DAN MANDIRI - yws
Memberikan "Kesempatan" pada anak, bagi sebagian orang tua adalah mudah, tapi sebagian lainnya merasa berat memberikannya. Saya ...
-
Ketika Beban seperti Sebongkah Batu Ada orang yang memandang beban dalam hidup seperti bongkahan batu besar yang harus dibaw...
-
PRECIOUS GIFT FROM ALLAH Catatan 6: Berubah dan beradaptasi tanpa henti … (True story based longitudinal experiences) Putri saya ya...
-
RESILIENSI - yws (Konteks sembuh dari kejadian buruk dan trauma) Coba kita lemparkan bola tenis ke lantai yang keras, maka ia akan memantul ...