GEGANA (GELISAH GUNDAH MERANA)
Berkaca dari pengalaman diri dan orang lain
Kebanyakan keluh dan gundah adalah ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan ...
- Anak yang kesal pada orang tuanya karena orangtuanya tidak sebaik orangtua lain
- Orangtua yang kecewa anaknya tidak sepintar, secantik dan sepatuh anak lain
- Orang cacat yang kesal dengan tubuhnya yang tidak sesempurna orang lain
- Orang yang kesal pada kelemahan-kelemahan dirinya
- Anak angkat karena diasuh bukan oleh orangtua kandungnya
- Anak yatim/piatu karena kehilangan orangtuanya
- Suami-istri yang tidak dikaruniai anak
- Suami yang kecewa istrinya tidak secantik atau setrampil istri lain
- Istri yang kecewa suaminya tidak sekaya atau romantis seperti suami lain
- Karyawan yang kecewa pada atasan dan perusahaannya
- Atasan yang kecewa pada anak buahnya
- Masyarakat yang kecewa pada pimpinannya
- Kelompok minoritas yang merasa diperlakukan tidak adil
- Kelompok mayoritas yang merasa terganggu dengan adanya orang yang berbeda
- Guru yang kecewa pada siswanya
- Siswa yang kecewa pada gurunya
- Orang miskin kecewa karena keterbatasannya
- Orang kaya kecewa karena kesepian
- ...
List dapat dilanjutkan
Dan saya menemukan, mereka yang berhasil berdamai dengan diri, lingkungan dan ketentuan Allah adalah mereka yang paling bahagia dan bisa fokus untuk melakukan hal-hal yang lebih baik, produktif dan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
Setiap langkah dan setiap hari kita diuji apakah kita siap untuk menerima perbedaan ini. Mulai dari perbedaan pada diri sendiri hingga perbedaan pilihan orang-orang di sekitar kita.
Mengapa kita gundah dan kecewa dengan perbedaan padahal perbedaan itu adalah Sunnatullah (mengacu pada Al Hujurat: 13).
Allah melengkapi kita dengan potensi untuk ikhlas menerima hal yang tak bisa diubah, sabar untuk berusaha mencapai yang diinginkan dan syukur atas apa yang diperoleh dan pencapaian yang diraih ...
Jumat, 31 Oktober 2014
GAMBAR KOK DIATUR ....
Seorang ayah curhat pada saya tentang anak perempuannya yang duduk di TK-A. Sejak kecil anaknya senang menggambar di rumah. Ayahnya yang bekerja di sebuah perusahaan advertising tahu bahwa menggambar adalah pekerjaan "hati" dan memberi kesempatan pada anaknya untuk bereskpresi dan bereksplorasi dengan bebas dalam menggambar. Dia boleh menggambar apapun, memilih warna apapun, dan menggambar dengan cara apapun. Sayangnya sejak masuk sekolah gairah menggambarnya mulai berkurang.
Ternyata di sekolah berbeda. Guru, memandang aktivitas menggambar sebagai aktivitas kognitif dan kendali psikomotorik saja. Oleh karena itu, anak disuruh menggambar secara "obyektif".
- Menggambar pemandangan berarti ada dua gunung, matahari, burung dan awan, ada sawah atau pantai (tergantung di daerah mana anak berada).
- Kalau menggambar bunga, maka dia berwarna merah, pink atau orange dan berdaun hijau, langit berwarna biru. Tak layak menggambar daun berwarna ungu dan langit coklat.
- Kalau menggambar orang harus lengkap bagian tubuhnya. Garis harus rapi dan warna tidak boleh keluar garis. Gambar diberi nilai angka. Angka rendah berarti gambar buruk dan angka tinggi berarti gambar baik.
Anak kehilangan gairahnya karena aktivitas menggambar yang awalnya menyenangkan, mendorong semangat, kreativitas dan ekspresi, berubah menjadi aktivitas yang menekan, memaksa dan
http://www.slideshare.net/oyasujiwo/10-keajaiban-gambar-anak-yang-terlupakan
Seorang ayah curhat pada saya tentang anak perempuannya yang duduk di TK-A. Sejak kecil anaknya senang menggambar di rumah. Ayahnya yang bekerja di sebuah perusahaan advertising tahu bahwa menggambar adalah pekerjaan "hati" dan memberi kesempatan pada anaknya untuk bereskpresi dan bereksplorasi dengan bebas dalam menggambar. Dia boleh menggambar apapun, memilih warna apapun, dan menggambar dengan cara apapun. Sayangnya sejak masuk sekolah gairah menggambarnya mulai berkurang.
Ternyata di sekolah berbeda. Guru, memandang aktivitas menggambar sebagai aktivitas kognitif dan kendali psikomotorik saja. Oleh karena itu, anak disuruh menggambar secara "obyektif".
- Menggambar pemandangan berarti ada dua gunung, matahari, burung dan awan, ada sawah atau pantai (tergantung di daerah mana anak berada).
- Kalau menggambar bunga, maka dia berwarna merah, pink atau orange dan berdaun hijau, langit berwarna biru. Tak layak menggambar daun berwarna ungu dan langit coklat.
- Kalau menggambar orang harus lengkap bagian tubuhnya. Garis harus rapi dan warna tidak boleh keluar garis. Gambar diberi nilai angka. Angka rendah berarti gambar buruk dan angka tinggi berarti gambar baik.
Anak kehilangan gairahnya karena aktivitas menggambar yang awalnya menyenangkan, mendorong semangat, kreativitas dan ekspresi, berubah menjadi aktivitas yang menekan, memaksa dan
http://www.slideshare.net/oyasujiwo/10-keajaiban-gambar-anak-yang-terlupakan
TAKUT DAN CEMAS
Ketika kita takut, objek rasa takut itu biasanya jelas. Takut terhadap binatang buas, takut berada di tempat tinggi, takut hantu, dan lain-lain.
Menghadapi rasa takut semacam itu, biasanya reaksi kita cukup jelas. Kalau kita tidak tahu apa yang akan kita perbuat, maka kita akan lari menghindar, lemas sekujur tubuh, atau diam kaku tak bergerak.
Sementara kalau kita tahu apa yang kita lakukan, maka kita akan menghadapi obyek yang menimbulkan rasa takut tersebut. Seorang pawang ular dia berani karena dia tahu apa yang harus dilakukan untuk mengendalikan ular, dan itu adalah hasil latihan. Orang yang berani panjat tebing, naik gunung atau bungee jumping, dia tahu apa yang harus dilakukan untuk menjaga dirinya tetap aman. Orang yang berani berada di tempat sepi sendirian dia tahu bahwa jin adalah makhluk Allah dan ia yakin bahwa Allah akan menjaganya. Pengetahuan dan ketrampilan menimbulkan rasa aman dan berani.
Sedangkan rasa cemas atau gelisah dalam psikologi didefinisikan sebagai rasa takut terhadap objek yang tidak jelas. Cemas menghadapi masa depan, cemas menghadapi kesulitan, cemas menghadapi lingkungan baru, dll.
Obyek rasa cemas lebih banyak diciptakan oleh pikiran atau imajinasi kita sendiri. Semakin tidak jelas objek yang kita hadapi, semakin tinggi "ancamannya" dan semakin tinggi pula kadar kecemasannya. Dan sebaliknya, semakin jelas kita mengidentifikasi objek kecemasan kita, semakin mudah kita memilah, dan mencari cara untuk menghadapinya.
Reaksi fisik takut dan cemas pun tidak berbeda. Orang yang ketakutan, kulitnya akan memucat, jantungnya berdebar keras, beberapa orang menjadi sakit perut dan bahkan ada yang terkencing-kencing (kendali otot kemih menurun).
Bayangkan bila seseorang mengalami kecemasan terus-menerus dalam hidupnya. Seorang anak yang cemas setiap berangkat sekolah, seorang karyawan yang cemas menghadapi masalah-masalah di kantornya, seorang wanita yang cemas menghadapi ketuaan, seorang remaja cemas menghadapi kelompok teman-temannya, dll. Metabolisma tubuhnya menjadi kacau, beberapa organ mengalami stress terus-menerus. Maag, asma, migrain, sariawan, eksim adalah keluhan fisik yang muncul ketika seseorang mengalami kecemasan.
Stress dalam hidup memang tidak bisa kita hindari. Bahkan Allah pun sudah menyatakan setiap orang akan menerima ujian dalam hidupnya. Oleh karena itu yang perlu kita lakukan bukanlah membiarkan atau menghindari, melainkan belajar dan mengembangkan kemampuan serta ketrampilan menghadapinya dengan coping dan solving problem.
Urai dan identifikasi semua masalah. Pecah-pecah menjadi lebih kecil, sehingga lebih mudah bagi kita untuk menyelesaikannya.
Sementara untuk fisik yang sudah kadung tegang karena tekanan/stress terus-menerus, lemaskan dengan relaksasi, kegiatan rekreatif, olah raga, ibadah, yoga atau apapun aktivitas yang membuat kita menjadi lebih rileks dan nyaman.
Menghindari masalah (yang sebetulnya tidak bisa dihindari dan akan selalu datang) sama saja dengan menyiksa diri terus menerus. Karena kita tidak membuat diri kita mampu, sementara rasa takut dan cemas terus saja datang.
Sayangkah kita dengan diri kita sendiri?
Dan, apakah kita mengizinkan diri untuk menjadi lebih trampil dalam menghadapi masalah dan mengelola emosi?
*Bismillah ... sambil terus belajar ...
Ketika kita takut, objek rasa takut itu biasanya jelas. Takut terhadap binatang buas, takut berada di tempat tinggi, takut hantu, dan lain-lain.
Menghadapi rasa takut semacam itu, biasanya reaksi kita cukup jelas. Kalau kita tidak tahu apa yang akan kita perbuat, maka kita akan lari menghindar, lemas sekujur tubuh, atau diam kaku tak bergerak.
Sementara kalau kita tahu apa yang kita lakukan, maka kita akan menghadapi obyek yang menimbulkan rasa takut tersebut. Seorang pawang ular dia berani karena dia tahu apa yang harus dilakukan untuk mengendalikan ular, dan itu adalah hasil latihan. Orang yang berani panjat tebing, naik gunung atau bungee jumping, dia tahu apa yang harus dilakukan untuk menjaga dirinya tetap aman. Orang yang berani berada di tempat sepi sendirian dia tahu bahwa jin adalah makhluk Allah dan ia yakin bahwa Allah akan menjaganya. Pengetahuan dan ketrampilan menimbulkan rasa aman dan berani.
Sedangkan rasa cemas atau gelisah dalam psikologi didefinisikan sebagai rasa takut terhadap objek yang tidak jelas. Cemas menghadapi masa depan, cemas menghadapi kesulitan, cemas menghadapi lingkungan baru, dll.
Obyek rasa cemas lebih banyak diciptakan oleh pikiran atau imajinasi kita sendiri. Semakin tidak jelas objek yang kita hadapi, semakin tinggi "ancamannya" dan semakin tinggi pula kadar kecemasannya. Dan sebaliknya, semakin jelas kita mengidentifikasi objek kecemasan kita, semakin mudah kita memilah, dan mencari cara untuk menghadapinya.
Reaksi fisik takut dan cemas pun tidak berbeda. Orang yang ketakutan, kulitnya akan memucat, jantungnya berdebar keras, beberapa orang menjadi sakit perut dan bahkan ada yang terkencing-kencing (kendali otot kemih menurun).
Bayangkan bila seseorang mengalami kecemasan terus-menerus dalam hidupnya. Seorang anak yang cemas setiap berangkat sekolah, seorang karyawan yang cemas menghadapi masalah-masalah di kantornya, seorang wanita yang cemas menghadapi ketuaan, seorang remaja cemas menghadapi kelompok teman-temannya, dll. Metabolisma tubuhnya menjadi kacau, beberapa organ mengalami stress terus-menerus. Maag, asma, migrain, sariawan, eksim adalah keluhan fisik yang muncul ketika seseorang mengalami kecemasan.
Stress dalam hidup memang tidak bisa kita hindari. Bahkan Allah pun sudah menyatakan setiap orang akan menerima ujian dalam hidupnya. Oleh karena itu yang perlu kita lakukan bukanlah membiarkan atau menghindari, melainkan belajar dan mengembangkan kemampuan serta ketrampilan menghadapinya dengan coping dan solving problem.
Urai dan identifikasi semua masalah. Pecah-pecah menjadi lebih kecil, sehingga lebih mudah bagi kita untuk menyelesaikannya.
Sementara untuk fisik yang sudah kadung tegang karena tekanan/stress terus-menerus, lemaskan dengan relaksasi, kegiatan rekreatif, olah raga, ibadah, yoga atau apapun aktivitas yang membuat kita menjadi lebih rileks dan nyaman.
Menghindari masalah (yang sebetulnya tidak bisa dihindari dan akan selalu datang) sama saja dengan menyiksa diri terus menerus. Karena kita tidak membuat diri kita mampu, sementara rasa takut dan cemas terus saja datang.
Sayangkah kita dengan diri kita sendiri?
Dan, apakah kita mengizinkan diri untuk menjadi lebih trampil dalam menghadapi masalah dan mengelola emosi?
*Bismillah ... sambil terus belajar ...
SESI KONSELING PENJURUSAN SISWA SMA KE PERGURUAN TINGGI
Bayangkan kamu berada di terminal, ada banyak kendaraan di sana. Mana yang akan kamu naiki? Tentukan dulu tujuannya. Kalau kamu asal naik, maka kamu tidak tahu akan dibawa ke mana. Mungkin saja kamu akan dibawa ke tempat yang kamu suka, tapi mungkin juga kamu akan dibawa ke tempat yang kamu sesali. Bahkan sangat mungkin kamu hanya berputar-putar saja dan kembali ke terminal yang sama.
Ceritanya kamu akan pergi ke Bandung (dari Jakarta). Kamu mau naik mobil yang mana? Ada kendaraan yang lewat tol Cipularang, ada yang lewat Puncak, ada pula lewat Purwakarta atau bahkan Sukabumi. Kamu mau naik bis AC atau yang tidak ber-AC? Atau mungkin kamu memutuskan tidak naik bis, karena kamu mempertimbangkan untuk naik travel, kereta api, pesawat terbang, bawa kendaran sendiri atau kamu ingin naik bajay saja ? Pilihan kendaraan ditentukan oleh seberapa besar uang yang kamu punya, seberapa cepat kamu ingin sampai dan seberapa besar kebebasan yang kamu inginkan.
Kalau kamu pilih naik pesawat, terbangnya sebentar, tapi biayanya paling mahal, bergengsi tentu. Naik travel cukup cepat tapi hanya dari beberapa lokasi saja. Naik bis lebih murah, tapi sampainya lebih lama. Naik kendaraan sendiri lebih nyaman karena kamu bisa berhenti di tempat yang kamu suka, tapi tentu saja melelahkan. Atau naik kereta, keamanannya relatif lebih baik, tapi tentu saja kamu tidak bisa naik dan berhenti sembarangan. Semua kendaraan itu memiliki aturan dan konsekuensinya sendiri. Kendaraan mana yang akan kamu pilih?
Mungkin kamu tiba-tiba ingin mengubah tujuan ketika masih di perjalanan. Misalnya ketika mengobrol dengan teman perjalanan tentang Yogya kamu tertarik untuk pergi ke Yogya saja. Dan serta merta kamu meminta berhenti untuk pindah kendaraan ke Yogya. Atau kalau kamu mau menunggu sebentar untuk singgah dulu di Bandung kemudian naik kendaraan lain menuju Yogya. Tentu saja kamu akan mengalami sedikit kerugian waktu dan biaya.
Apakah salah mengubah tujuan?
Jangan pernah merasa salah karena memilih Bandung sebagai tujuan kalau kamu memang tidak pernah tahu Yogya sebelumnya. Boleh jadi juga setelah kamu ke Yogya kamu mendapat informasi tempat yang bagus di luar negeri. Jangan berkata, "Yah tahu gini saya gak perlu ke Bandung dulu, langsung saja ke luar negeri." Tidak perlu bilang seperti itu karena kalau kamu tidak ke Bandung maka kamu tidak mendapat informasi tentang luar negeri itu.
Jangan pernah merasa kuatir kalau cita-cita kamu sekarang ternyata bukan itu yang kamu lakukan nanti. Tidak ada seorang pun yang tahu tentang masa depannya. Tugas kita berikhtiar dengan ilmu dan kemampuan kita, kemudian bukalah hati seluas-luasnya untuk menerima ketentuan Allah. Karena Allah yang mengilhamkan jalan yang terbaik. Pasti ada rahasiaNya ketika Allah mengilhamkan "Bandung" yang pertama kali untuk dikunjungi. Karena dari situ kamu akan menemukan pilihan jalan yang lain.
Nah, Bandung, Yogya atau luar negeri adalah cita-cita yang terpikirkan oleh kamu sekarang.
Kendaraan adalah perguruan tinggi, fakultas dan jurusannya.
Uang untuk membayar adalah bakat dan kemampuan kamu.
Sementara perjalanan Jakarta-Bandung itu adalah seperti proses belajar kamu di perguruan tinggi.
*Setting asli konseling berupa tanya jawab dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengajak siswa untuk menemukan sendiri jawabannya.
Bayangkan kamu berada di terminal, ada banyak kendaraan di sana. Mana yang akan kamu naiki? Tentukan dulu tujuannya. Kalau kamu asal naik, maka kamu tidak tahu akan dibawa ke mana. Mungkin saja kamu akan dibawa ke tempat yang kamu suka, tapi mungkin juga kamu akan dibawa ke tempat yang kamu sesali. Bahkan sangat mungkin kamu hanya berputar-putar saja dan kembali ke terminal yang sama.
Ceritanya kamu akan pergi ke Bandung (dari Jakarta). Kamu mau naik mobil yang mana? Ada kendaraan yang lewat tol Cipularang, ada yang lewat Puncak, ada pula lewat Purwakarta atau bahkan Sukabumi. Kamu mau naik bis AC atau yang tidak ber-AC? Atau mungkin kamu memutuskan tidak naik bis, karena kamu mempertimbangkan untuk naik travel, kereta api, pesawat terbang, bawa kendaran sendiri atau kamu ingin naik bajay saja ? Pilihan kendaraan ditentukan oleh seberapa besar uang yang kamu punya, seberapa cepat kamu ingin sampai dan seberapa besar kebebasan yang kamu inginkan.
Kalau kamu pilih naik pesawat, terbangnya sebentar, tapi biayanya paling mahal, bergengsi tentu. Naik travel cukup cepat tapi hanya dari beberapa lokasi saja. Naik bis lebih murah, tapi sampainya lebih lama. Naik kendaraan sendiri lebih nyaman karena kamu bisa berhenti di tempat yang kamu suka, tapi tentu saja melelahkan. Atau naik kereta, keamanannya relatif lebih baik, tapi tentu saja kamu tidak bisa naik dan berhenti sembarangan. Semua kendaraan itu memiliki aturan dan konsekuensinya sendiri. Kendaraan mana yang akan kamu pilih?
Mungkin kamu tiba-tiba ingin mengubah tujuan ketika masih di perjalanan. Misalnya ketika mengobrol dengan teman perjalanan tentang Yogya kamu tertarik untuk pergi ke Yogya saja. Dan serta merta kamu meminta berhenti untuk pindah kendaraan ke Yogya. Atau kalau kamu mau menunggu sebentar untuk singgah dulu di Bandung kemudian naik kendaraan lain menuju Yogya. Tentu saja kamu akan mengalami sedikit kerugian waktu dan biaya.
Apakah salah mengubah tujuan?
Jangan pernah merasa salah karena memilih Bandung sebagai tujuan kalau kamu memang tidak pernah tahu Yogya sebelumnya. Boleh jadi juga setelah kamu ke Yogya kamu mendapat informasi tempat yang bagus di luar negeri. Jangan berkata, "Yah tahu gini saya gak perlu ke Bandung dulu, langsung saja ke luar negeri." Tidak perlu bilang seperti itu karena kalau kamu tidak ke Bandung maka kamu tidak mendapat informasi tentang luar negeri itu.
Jangan pernah merasa kuatir kalau cita-cita kamu sekarang ternyata bukan itu yang kamu lakukan nanti. Tidak ada seorang pun yang tahu tentang masa depannya. Tugas kita berikhtiar dengan ilmu dan kemampuan kita, kemudian bukalah hati seluas-luasnya untuk menerima ketentuan Allah. Karena Allah yang mengilhamkan jalan yang terbaik. Pasti ada rahasiaNya ketika Allah mengilhamkan "Bandung" yang pertama kali untuk dikunjungi. Karena dari situ kamu akan menemukan pilihan jalan yang lain.
Nah, Bandung, Yogya atau luar negeri adalah cita-cita yang terpikirkan oleh kamu sekarang.
Kendaraan adalah perguruan tinggi, fakultas dan jurusannya.
Uang untuk membayar adalah bakat dan kemampuan kamu.
Sementara perjalanan Jakarta-Bandung itu adalah seperti proses belajar kamu di perguruan tinggi.
*Setting asli konseling berupa tanya jawab dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengajak siswa untuk menemukan sendiri jawabannya.
REWARD VS PUNISHMENT
Reward dan punishment bisa dipandang dengan cara lain,
Reward adalah konsekuensi dari suatu perilaku yang membuat perilaku itu berpeluang besar diulangi kembali dan
Punishment adalah konsekuensi terhadap suatu perilaku yang membuat perilaku kemungkinan besar akan menghilang. Reward dan punishment bisa terjadi tidak sengaja maupun disengaja.
Ketika seorang anak menceritakan pengalamannya di sekolah, dan orang tuanya menanggapi setengah hati, tidak menatap mata anak dengan antusias, merespon sekedarnya, memotong pembicaraan anak, panik, menimpali dengan segudang nasihat, atau respon tidak menyenangkan lainnya. Maka respon orang tua dihayati sebagai "punishment" oleh anak, sehingga peluang dia untuk mau menceritakan berbagai macam hal menjadi menurun. Anak menjadi malas berbicara dengan orang tua, kurang terbuka, tidak artikulatif, tidak jujur, tidak sopan dan lainnya.
*Modifikasi perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi terhadap respons
BALADA KELAS AKSELERASI
- Bu saya kayaknya tambah bodoh. Atau jangan-jangan saya memang bodoh beneran.
+ Gimana ceritanya kamu bisa mikir begitu?
- Dulu waktu SD saya gampang bener dapat nilai bagus. Sekali diajarin langsung ngerti. Gak pake belajar habis-habisan. Kok sekarang kayaknya susah bener dapat nilai bagus. Jangan-jangan hasil psikotes saya salah ya bu. Saya sebetulnya gak pinter-pinter amat.
+ Coba sini lihat, kamu itu punya kecerdasan luar biasa. Dalam populasi paling hanya 5-7 persen yang punya kecerdasan seperti kamu. Itu gift, hadiah dari Allah buat orang-orang tertentu. Ibaratnya kekayaan, kamu itu seperti anaknya orang kaya. Kamu bisa memperoleh apa pun yang kamu mau karena orang tua kamu kaya.
Waktu SD ketika mendapat pelajaran, kamu bisa langsung paham tanpa belajar habis-habisan. Nah teman-teman kamu harus berulang-ulang belajar, mengerjakan PR, itu pun belum tentu bisa langsung mengerti juga. Nah apa yang berbeda? Teman-teman kamu mengembangkan pola berusaha dan bersabar.
Kalau kita bandingkan anak orang kaya dan anak orang biasa-biasa saja, maka anak orang kaya bisa dapat warisan dari orang tuanya dan memperoleh keinginannya tanpa harus menunggu. Sementara anak orang biasa harus bekerja habis-habisan kalau mau kaya. Dan mereka juga belajar menahan diri karena tidak setiap keinginannya langsung dapat diperoleh.
- (Ngangguk-ngangguk dan matanya tiba-tiba bercahaya), Ah saya ngerti bu. Teman-teman saya mengembangkan pola berusaha dan bersabar, sedangkan saya tidak karena saya cepat paham. Sekarang saya sekolah bareng sama anak-anak yang kecerdasannya sama dengan saya dan saya keteteran karena saya tidak terbiasa berusaha dan belajar keras.
+ Nah, padahal saya belum selesai cerita, tapi kamu sudah menangkap ujungnya, berarti kamu cerdas kan ...
*Berhati-hati dengan kemudahan dan kelebihan. Ketika terlena, maka ada yang akan hilang dari diri.
- Bu saya kayaknya tambah bodoh. Atau jangan-jangan saya memang bodoh beneran.
+ Gimana ceritanya kamu bisa mikir begitu?
- Dulu waktu SD saya gampang bener dapat nilai bagus. Sekali diajarin langsung ngerti. Gak pake belajar habis-habisan. Kok sekarang kayaknya susah bener dapat nilai bagus. Jangan-jangan hasil psikotes saya salah ya bu. Saya sebetulnya gak pinter-pinter amat.
+ Coba sini lihat, kamu itu punya kecerdasan luar biasa. Dalam populasi paling hanya 5-7 persen yang punya kecerdasan seperti kamu. Itu gift, hadiah dari Allah buat orang-orang tertentu. Ibaratnya kekayaan, kamu itu seperti anaknya orang kaya. Kamu bisa memperoleh apa pun yang kamu mau karena orang tua kamu kaya.
Waktu SD ketika mendapat pelajaran, kamu bisa langsung paham tanpa belajar habis-habisan. Nah teman-teman kamu harus berulang-ulang belajar, mengerjakan PR, itu pun belum tentu bisa langsung mengerti juga. Nah apa yang berbeda? Teman-teman kamu mengembangkan pola berusaha dan bersabar.
Kalau kita bandingkan anak orang kaya dan anak orang biasa-biasa saja, maka anak orang kaya bisa dapat warisan dari orang tuanya dan memperoleh keinginannya tanpa harus menunggu. Sementara anak orang biasa harus bekerja habis-habisan kalau mau kaya. Dan mereka juga belajar menahan diri karena tidak setiap keinginannya langsung dapat diperoleh.
- (Ngangguk-ngangguk dan matanya tiba-tiba bercahaya), Ah saya ngerti bu. Teman-teman saya mengembangkan pola berusaha dan bersabar, sedangkan saya tidak karena saya cepat paham. Sekarang saya sekolah bareng sama anak-anak yang kecerdasannya sama dengan saya dan saya keteteran karena saya tidak terbiasa berusaha dan belajar keras.
+ Nah, padahal saya belum selesai cerita, tapi kamu sudah menangkap ujungnya, berarti kamu cerdas kan ...
*Berhati-hati dengan kemudahan dan kelebihan. Ketika terlena, maka ada yang akan hilang dari diri.
HARAPAN YANG MENJADI BEBAN
- Bu, kayaknya saya salah badan
+ Maksudnya bagaimana?
- Harusnya saya laki-laki bu. Ini badan, bukan badan saya.
+ Apa yang bikin kamu merasa seperti itu?
- Gak tahu, pokoknya saya merasa lebih nyaman pakai baju laki-laki, saya lebih suka bareng sama teman laki-laki. Saya gak suka kegiatan perempuan, masak, jahit, beres-beres.
+ Sejak kapan kamu merasa seperti ini?
- Kalau pakai baju laki-laki sih dari kecil bu. Kata ibu saya, bapak dulu pingin banget punya anak laki-laki, soalnya kakak saya perempuan semua. Terus pas waktu saya kecil saya sering dipakein baju laki-laki. Saya gak boleh nangis bu. Saya dimarahin kalau nangis. Saya harus kuat. Saya juga sering diajak main bola sama bapak. Gak tahu kapan mulainya bu, kayaknya sih waktu SD, saya jadi senang aja kalau main sama teman laki-laki daripada main sama teman perempuan. Kalau main sama perempuan jadi males, berisik ...
+ Nah, perasaan kamu bagaimana sekarang?
- Gak enak bu, kayak ada yang salah gitu. Badan saya perempuan, tapi saya ngerasa gak nyaman. Tapi saya juga takut bu. Saya takut dosa.
+ Dan apa yang kamu inginkan?
- Saya ingin tenang bu
+ Dan apa yang bisa membuat kamu tenang?
- Kalau saya melakukan apa yang saya suka
+ Dan melakukan apa yang kamu suka itu yang seperti apa?
- Saya suka olah raga sampai keringetan, saya suka naik gunung, saya teriak keras-keras di puncak gunung, saya ngadu sama Tuhan ...
..... proses masih berlanjut sampai beberapa sesi dengan forgiveness dan future pacing.
*Berhati-hatilah dengan harapan dan keinginan orangtua karena di kemudian hari bisa menjadi beban bagi anak ...
+ Maksudnya bagaimana?
- Harusnya saya laki-laki bu. Ini badan, bukan badan saya.
+ Apa yang bikin kamu merasa seperti itu?
- Gak tahu, pokoknya saya merasa lebih nyaman pakai baju laki-laki, saya lebih suka bareng sama teman laki-laki. Saya gak suka kegiatan perempuan, masak, jahit, beres-beres.
+ Sejak kapan kamu merasa seperti ini?
- Kalau pakai baju laki-laki sih dari kecil bu. Kata ibu saya, bapak dulu pingin banget punya anak laki-laki, soalnya kakak saya perempuan semua. Terus pas waktu saya kecil saya sering dipakein baju laki-laki. Saya gak boleh nangis bu. Saya dimarahin kalau nangis. Saya harus kuat. Saya juga sering diajak main bola sama bapak. Gak tahu kapan mulainya bu, kayaknya sih waktu SD, saya jadi senang aja kalau main sama teman laki-laki daripada main sama teman perempuan. Kalau main sama perempuan jadi males, berisik ...
+ Nah, perasaan kamu bagaimana sekarang?
- Gak enak bu, kayak ada yang salah gitu. Badan saya perempuan, tapi saya ngerasa gak nyaman. Tapi saya juga takut bu. Saya takut dosa.
+ Dan apa yang kamu inginkan?
- Saya ingin tenang bu
+ Dan apa yang bisa membuat kamu tenang?
- Kalau saya melakukan apa yang saya suka
+ Dan melakukan apa yang kamu suka itu yang seperti apa?
- Saya suka olah raga sampai keringetan, saya suka naik gunung, saya teriak keras-keras di puncak gunung, saya ngadu sama Tuhan ...
..... proses masih berlanjut sampai beberapa sesi dengan forgiveness dan future pacing.
*Berhati-hatilah dengan harapan dan keinginan orangtua karena di kemudian hari bisa menjadi beban bagi anak ...
Langganan:
Postingan (Atom)
"KESEMPATAN", KEBUTUHAN ANAK UNTUK BERKEMBANG DAN MANDIRI - yws
Memberikan "Kesempatan" pada anak, bagi sebagian orang tua adalah mudah, tapi sebagian lainnya merasa berat memberikannya. Saya ...
-
PRECIOUS GIFT FROM ALLAH Catatan 6: Berubah dan beradaptasi tanpa henti … (True story based longitudinal experiences) Putri saya ya...
-
Ketika Beban seperti Sebongkah Batu Ada orang yang memandang beban dalam hidup seperti bongkahan batu besar yang harus dibaw...
-
RESILIENSI - yws (Konteks sembuh dari kejadian buruk dan trauma) Coba kita lemparkan bola tenis ke lantai yang keras, maka ia akan memantul ...